Menyelisik Keadaan Pertambangan Batu Bara Bungo

Pertambangan batu bara merupakan komoditas pertambangan terbesar di Provinsi Jambi, dengan nilai produksi terbesar di Kabupaten Muaro Bungo di antara 7 kabupaten lainnya. Berdasarkan data yang dimiliki Pemerintah Provinsi Jambi, Muaro Bungo memiliki tanah yang mengandung batu bara golongan A yang merupakan bahan galian strategis. Namun, kekayaan yang dieksploitasi secara besar-besaran pun memberi dampak negatif kepada manusia dan lingkungan sekitarnya. Warga Bungo mengeluhkan banyaknya lahan tambang yang tidak direklamasi sehingga menimbulkan limbah berupa air asam pada lubang galian. Hal tersebut semakin meresahkan karena beberapa daerah galian yang tidak direklamasi berada di daerah resapan air. Selain itu, pengelolaan tambang batu bara di Provinsi Jambi dinilai tidak sesuai dengan tata ruang. Lahan miring yang digunakan oleh para pengelola masih menggunakan pertambangan dengan sistem terbuka yang dapat menyebabkan tanah longsor. Infrastuktur jalan pun mengalami dampak buruk dari pertambangan melalui tonasi yang terkadang melewati batas yang diizinkan sehingga merusak jalan umum dan menghambat mobilitas penduduk sekitar.

Oleh karena berbagai dampak buruk dari pengelolaan pertambangan, Pemerintah Provinsi Jambi menetapkan moratorium tambang sejak 2013 demi memperbaiki keadaan. Namun, semangat moratorium hingga saat ini tidak sesuai harapan. Masih terdapat pemberian izin pembukaan lahan di kawasan hutan. Hal tersebut membuat kalangan warga dan pencinta lingkungan hidup menginginkan perpanjangan moratorium. Harapannya, pemerintah setempat lebih tegas dalam memberikan izin sehingga keseimbangan ekologis kembali tercapai dan moratorium dapat segera dihentikan sehingga batu bara dapat kembali dieksplorasi dan diproduksi.

Departure + Week 0

Pada post sebelumnya, saya mengatakan bahwa sebelum berangkat, saya memikul 2 amanah, yaitu OSKM dan Wisuda Pusat. Oleh karena hari wisuda adalah 1 Agustus 2015, saya berencana meninggalkan Bandung tanggal 1 Agustus malam dan menghabiskan waktu dengan keluarga saya hingga tanggal keberangkatan saya, 4 Agustus. Hingga tanggal 1 Agustus, saya bersyukur mendapat banyak bantuan dari teman-teman terutama Tania yang mengizinkan tempat tinggalnya sementara saya huni selama seminggu di Bandung dan masjid Salman yang selalu terbuka 24 jam sehingga dapat membiarkan raga ini istirahat sejenak jika terlampau malam di kampus.

Tanggal 1 Agustus pun tiba. Hari terakhir saya di Bandung. Mengucapkan salam kepada segenap brosis MTM, panitia Wisuda Pusat, dan panitia OSKM. Saya terharu mendapatkan beberapa hadiah sebelum pergi dari Giffary, Intan, Tania, Sekar, dan khususnya dari Hamdan si bos Akademik yang bela-belain cepat pulang magang untuk menemui saya. Ya, saya selalu bilang satu semester itu hanya sebentar. Namun, diperlakukan seperti itu, sepertinya satu semester memang tidak sebentar seperti yang saya pikirkan.

Sayangnya, rencana tinggal lah rencana. Saya yang berniat pulang langsung setelah mengucapkan salam tertahan di Bandung karena secara tidak sengaja saya mematahkan kunci perpustakaan MT saat ingin mengambil barang……………………………..

Juki, kupinta ampunmu.

Oleh karena sudah malam dan menurut saya sangat tidak santun memberikan kunci yang patah tanpa bertanggung jawab, malam itu juga, saya berkeliling mencari tukang duplikat kunci di sekitar Tubagus Ismail. Alhamdulillah saya menemukannya dan mendapatkan kunci yang jauh lebih baik. Namun, waktu sudah menunjukkan pukul 21.02 sedangkan saya belum membereskan barang untuk dibawa pulang sama sekali. Oleh karena itu saya memutuskan kembali ke kampus dan pulang ke Jakarta pada esok harinya. Mungkin kejadian ini terdengar begitu sial. Namun, dengan adanya kejadian seperti ini, saya bisa mengobrol dengan teman-teman saya sambil makan malam. An appropriate farewell.

3 Agustus – 9 Agustus 2015.

Oleh karena timeline akademik di NTU menggunakan Week-, maka saya membagi kehidupan saya di NTU per minggu. Dimulai dari tanggal 3 Agustus, saya baru benar-benar packing semua kebutuhan saya satu semester di negara orang pada malam hari sebelum esok pagi keberangkatan. Ya, jangan contoh saya yang procrastinator ini 🙂 bahkan saya baru menyadari saya butuh membeli kabel LAN untuk koneksi internet di kamar saya karena tidak ada wifi. Namun karena sudah malam, akhirnya saya memutuskan membeli kabel tersebut sesampainya di Singapura. Life tips #1: Periksa barang yang dibutuhkan dari jauh-jauh hari.

Esok harinya, 4 Agustus, merupakan hari keberangkatan saya. Pada hari ini baru lah saya bertemu TF LEaRN scholars dari Indonesia lainnya di bandara dan berkenalan dengan mereka. Maklumi saya yang terlalu fokus dengan kehidupan di Bandung sehingga bahkan dengan tidak santunnya tidak mencari tahu siapa saja orang Indonesia yang akan menjadi rekan sejawat saya selama satu semester ke depan 😦 Sebenarnya salah satu dari ITB sudah saya kenal, yaitu Bela Fista, Teknik Industri 2013. Namun saya tidak terlalu mengenalnya sehingga saya anggap pertemuan di bandara adalah pertemuan pertama kami. Pada saat itu akhirnya saya mengetahui bahwa ada 8 orang yang berasal dari Indonesia. Deskripsi mengenai 7 teman saya ini dapat dilihat pada post  sebelumnya.

Sepertinya yang lainnya sudah berkenalan terlebih dahulu secara online karena hanya saya sendiri yang tidak nyambung. Bahkan beberapa dari mereka bilang sudah berkomunikasi dengan beberapa TF scholars dari India dan Cina. Life tips #2: perkenalkan diri dan cari temanmu itu. Baik sesama Indonesia maupun TF Scholars lainnya.

Sesampainya di Singapura, kami naik taksi menuju NTU karena bawaan kami rata-rata 2 koper sehingga tidak mungkin kami berdesak-desakan naik MRT. Oleh karena kami semua baru pertama kali ke NTU dan semua hall kami berbeda, kami membuat supir taksi kebingungan dan saya, penghuni Hall 9, sebagai orang terakhir yang turun dari taksi kena omel. Life tips #3: bawa peta! Singapura itu kecil, kok, jangan merepotkan orang lain! Ah, ya, mengenai hall, yang menentukan penempatan hall dari pihak NTU sendiri dengan sistem ballot, sehingga tidak dapat kami menentukan siapa roommate kita sesuka hati. Oleh karena itu kami semua orang Indonesia tidak ada yang satu hall. Sejujurnya saya sempat khawatir jika roommate saya nonmuslim atau bukan orang Indonesia karena takut akan mengganggu tidurnya dalam rangka shalat Subuh selama satu semester ini. Akhirnya sekarang saya berada di depan kamar saya dan well, this is the moment of truth.

Begitu saya membuka pintu….

Terlihat roommate saya bermuka keturunan Tiongkok. Tapi…

“Orang Indonesia, ya?” tanya roommate saya, tertawa.

Kami berdua pun tertawa. Ya! Roommate saya orang Indonesia! Saya langsung bilang kepadanya betapa saya awalnya cemas akan perihal roommate ini. Perkenalkan roommate saya ini. Theodora Karin, MSE Year 3, yang notabene-nya berarti kami satu jurusan dan satu angkatan. Hal yang menariknya pula, saya satu hall dengan teman SMA saya pula, Dyah Adila, EEE Year 3. Kamar saya pun tepat bersebelahan dengan pantry. Betapa terlalu beruntungnya saya ini!

Namun, saya kaget ternyata default kamar ini tidak ada bantal dan kamar mandinya berada di luar kamar sehingga saya butuh sandal. Ya, kembali lagi ke life tips #1. Oleh karena banyak pula barang yang saya butuhkan, saya meminta Dila menemani saya pergi berbelanja esok harinya dan setidaknya jalan-jalan ke pusat kota.

Esok harinya, saya dan Dila pergi ke daerah Bugis dan Orchard sebelum berbelanja di daerah Jurong Point. Ya, NTU berada di pinggiran negeri Singapura ini, tidak terjangkau oleh peradaban kota sehingga tempat berbelanja terdekat adalah di daerah Jurong dengan menaiki bus 199 atau 179. Sementara untuk ke pusat kota, cara termudah dan efisien melalui MRT!

Processed with VSCOcam with c1 preset

Zia dan Dila di Haji Lane

IMG_7223[1]

Kampong Glam

Yang menyenangkan, saya akhirnya menemukan The Little Drom Store di SOTA! FYI, The Little Drom Store adalah semacam art craft store yang memuat barang-barang unyu.

IMG_7245[1]

Salah satunya adalah ini

Setelah puas jalan-jalan di pusat kota, kami berdua pergi kembali ke Jurong Point membeli kebutuhan. Betapa saya terkaget-kaget dengan harga barang di sini. Bayangkan saja sandal jepit yang paling mahal tiga puluh ribu rupiah di Indonesia seharga 6 SGD lebih di sini! Begini lah nasib orang yang tidak penuh persiapan.

6 Agustus 2015. Orientation Day For Exchange Student. Pada hari ini saya bertemu dengan exchange students dari seluruh dunia! Namun, sebelumnya, TF LEaRN scholars dipertemukan terlebih dahulu dengan sesamanya beserta para mentor dan buddyBuddy merupakan local Singaporean yang dapat menjadi guide selama hidup di Singapura sedangkan mentor adalah dosen wali. Di sini lah pertama kali saya dan Xing Xing (RRC), partner satu mentor, bertemu dengan Mr. Oh Joo Tien, mentor kami. Setelah dikumpulkan, kami semua mengikuti orientasi untuk seluruh exchange students yang tidak hanya dari TF LEaRN saja.

IMG_7250[1]

ki-ka: Grace (Myanmar), Ruby (Taiwan), Bela, Zia

TF LEaRN Scholars!

Hal menarik lainnya, minggu ini Singapura sedang bersuka cita karena perayaan Independence Day, SG50. Banyak perayaan dan offers menarik selama seminggu ini. Sehingga pada 8 Agustus 2015, saya dan beberapa TF LEaRN scholars pergi menuju Little India dan Chinatown untuk menunggu pre-celebration SG50 di Marina Bay. Ya, hari kemerdekaan jatuh pada tanggal 9 Agustus, sehingga perayaan puncaknya terjadi esok harinya. Di Little India, teman kami yang berasal dari India mengajak kami makan di vegetarian Indian restaurant karena di sana semua vegetarian, muslim, dan yang tidak suka pedas dapat makan. Di sini pula saya berkenalan dengan salah satu teman saya dari RRC, Sven, ya nama internasionalnya, yang merupakan orang terlucu menurut saya diantara kami semua.

“Zia, are you Indian? I do not know what are all these Indian cuisines”, asked Sven.

“No, but maybe I am gonna order cheese naan”

“Just order and I am gonna order same like yours,” said Sven with confused face.

“Please do not try to kill me by ordering a poisonous one, OK?” suddenly he said that.

“Oh sorry I don’t care,” I answered it to tease him.

And that was how I met the funniest guy in Singapore.

Setelah mencoba kuliner India, kami pun pergi ke Chinatown dan teman-temann kami yang berasal dari RRC mengajak kami ke kedai es serut. Di sini kami memesan semua jenis es serut agar semua orang dapat mencicipinya! Sorenya kami pergi ke Marina Bay dan menonton kembang api pada malam harinya.

A groufie in Little India

A groufie in Little India

Another groufie in Chinatown

Another groufie in Chinatown

Ice creams!

Ice creams!

With a Malaysian sweetheart

With a Malaysian sweetheart

D-1 SG50 in Marina Bay

D-1 SG50 in Marina Bay

Esok harinya, 9 Agustus 2015, saya tidak ikut dengan teman-teman lainnya yang pergi kembali ke Marina Bay menonton SG50 Celebration karena kondisinya pasti sangat ramai. Lagipula saya rasa sudah cukup menonton kembang api pada hari sebelumnya sehingga saya memutuskan pergi sendiri ke museum. Mumpung semua museum sedang gratis. Kebetulan pula ada galeri 700 tahun Singapura di National Museum of Singapore. Sekalian menambah wawasan. Setelah pergi ke National Museum, saya berkunjung ke Esplanade untuk melihat galeri seninya. Oleh karena semua orang terpusat menuju Marina Bay, saya sangat senang mendapati museum yang tidak terlalu ramai dan dapat sepuasnya berkeliling.

National Museum of Singapore

National Museum of Singapore

SG50 Celebration: SINGAPURA 700 YEARS

SG50 Celebration: SINGAPURA 700 YEARS

I See You, You See Me at Esplanade

I See You, You See Me at Esplanade

Segera saya pulang, merapikan kamar, dan akhirnya kamar saya pun sekarang siap huni!

Kamar tercinta

Kamar tercinta

Let us call it a week. Happy SG50, Singaporeans!

Companions

Sebelum saya melanjutkan dengan cerita kehidupan saya di Singapura, ada baiknya saya memperkenalkan teman-teman saya, sesama penerima beasiswa TF LEaRN @ NTU, yang mewarnai kehidupan saya selama lebih dari 5 minggu. Rasanya tanpa kehadiran mereka, hambar hidup saya di sini. 

ki-ka: Putri, saya, Gracia, Prisca, Bela, Rexy, Nabila, Rahma

 

1. Rexy Renaldo Bhagya – Kimia UGM 2012

Satu-satunya lelaki diantara kami! Paling tua pula. Pasti butuh kesabaran berlebih menghadapi keceriwisan dan kerempongan perempuan yang mengelilinginya. Rexy ini anak Indonesia paling hits di kalangan TF LEaRN seantaro Asia. Oleh karena Rexy laki-laki satunya, secara langsung kami tunjuk menjadi IC Indonesia. Lucunya ga ketulungan tapi kayaknya sreg banget ngobrol sama kami para perempuan. Jago main gitar. Punya GoPro sehingga Rexy salah satu sumber kenarsisan kami. Belakangan ini baru tahu Rexy jago masak setelah masak bersama. Benar-benar lelaki idaman.

2. Rahmasari Noor Hidayah – Teknik  Kelautan ITB 2011

Panggilannya sensei. Pertama kali ketemu sensei di bandara dan langsung komentar banyak karena doi alumnus MAN Insan Cendekia Serpong yang notabenenya banyak teman saya yang berasal dari sekolah itu pula. Padahal dari pesantren ya, tapi kelakuannya freak banget sampai saya terkaget-kaget, sensei. Suka iseng menggoda saya dengan salah satu temannya. Paling aktif suka pergi kemana-mana diantara kami semua yang rata-rata pada malas gerak. Hall-nya paling sering kami kunjungi untuk masak bersama. Padahal disini apply Maritime Studies tapi semua course yang diambil tidak ada hubungannya sama sekali dengan sekolahnya. (korban STARS War. akan saya jelaskan mengapa hal itu bisa terjadi pada post selanjutnya) Pemikiran dan perasaannya selama di Singapura dapat ditilik di sini.

3. Nabila Mardhatillah – Teknik Industri UI 2012

Seniorku saat SMA tapi baru saling mengenal dari program ini. Paling banyak cemas dan salah satu yang paling malas gerak diantara kami semua. Paling dekat dengan sensei karena hall mereka berdekatan sehingga setiap hari tidak aneh kalau melihat mereka jalan berdua. Suka merasa kemampuan bahasa inggrisnya tidak terlalu bagus padahal bagus. Sangat sayang dengan adiknya yang masih imut kecil menggemaskan. Paling getol menggoda kami semua sampai-sampai tidak ada yang menggodanya. Jangan-jangan menggoda agar digoda, ya, Nab? Kalau bersama sensei, mereka bersatu menjadi duo yang gampang kesasar.

4. Bela Fista – Teknik Industri ITB 2013

Pertama kali bertemu karena dia menghubungi saya untuk mengobrol sebagai sesama penerima beasiswa. Baru lah saya sadar bahwa Bela ini yang paling kepo diantara kami semua. Sepertinya kalau saya butuh info, saya bisa tanya Bela karena biasanya dia lebih dulu sudah mencari tahu. Baik info umum maupun info pribadi orang-orang. Orangnya punya mimpi yang besar dan sangat terlihat berusaha mencapainya. Jarang sekali saya jalan bersama Bela di akhir pekan karena dia mengambil kuliah di hari Sabtu. Moody, namun berdedikasi tinggi.

5. Yulisyah Putri Daulay – Teknik Industri UGM 2013

Super sanguinis. Pemecah keheningan. Pemberi bumbu tawa. Paling muda, paling bocah, paling aktif, paling pintar. Pokoknya paling paling. Anaknya sangat ekstrovert sehingga mudah sekali mengenal Putri. Kadang suka geli mendengar gaya bicaranya karena logat Medan masih terasa kental. Paling semangat suka mengajak pergi. Paling sering terlihat bersama Bela karena satu jurusan dan satu angkatan. Kisahnya di Singapura dapat diintip disini.

6. Maria Prisca Peivita – Teknik Kimia UI 2013

Primadona Indonesia! Sampai saat ini laki-laki yang mengejarnya berasal dari local, Prancis, dan India.  Padahal sudah punya pasangan, ya Pris. Paling stylish juga diantara kami semua. Partner belanja saya dan bahaya sekali kalau Prisca bilang ada sale di suatu tempat karena kami berdua bakal kalap berkeliling berbelanja. Dari luar kelihatannya kalem, padahal suka bercanda dan satu koneksi dengan Rexy. Paling sohib dengan Cia.

7. Gracia Naomi Hanaka – Manajemen UI 2013

Manusia nomor 2 yang suka cemas setelah Nabila. Paling sibuk dengan dunia perkuliahannya karena mengambil NBS yang terkenal dengan setumpuk tugasnya. Suara tawanya renyah seperti wafer. Mana orangnya mudah tertawa pula. Gemesein minta dicubit. Saya belum pernah sih belanja bersama Cia. Tapi pasti sama kalapnya karena Cia ini seperti Prisca hobi belanjanya. Simple minded terlihat dari pikirannya yang mengatakan bahwa kita dapat menawar murah di Little India jikalau memakai baju yang terkesan gembel.

Itu lah mereka semua! Teman-teman seperjuangan yang membuat petualangan di rimba ini tidak terlampau sulit. Sumber tawa pada kehidupan hambar kampus.

Kesayanganku.

Prologue

Semua bermula dari obrolan saya dengan sahabat saya, Jobas, dalam kelas Material Keramik.

“Kayaknya asik, ya, kalau liburan kali ini ke luar negeri.”

“Tabungan gue ga cukup, Bas! Tapi pengen sih….”

“Mau coba apply research project, ga, nih. Di Kyoto.”

Dengan modal nekat ilmu masih cetek dan kemampuan bahasa pas-pasan, kami berdua mencoba apply untuk research project tersebut. Memang pada akhirnya kami berdua tidak berhasil, namun bermula dari satu itu, kami mulai rajin melihat web IRO untuk berbagai kesempatan pergi ke luar negeri tanpa mengeluarkan biaya. Saat itu juga sebenarnya saya baru tahu di ITB ada IRO…. Kurang paham ini saya yang kurang update  atau memang cuma sedikit orang yang tahu keberadaan IRO. Melalui IRO, saya dan Jobas akhirnya apply untuk dua program yang berbeda. Saya apply untuk TF LEaRN @ NTU sedangkan Jobas apply untuk summer school di Tohoku University.

Apa itu TF LEaRN @ NTU?

TF LEaRN, singkatan dari Temasek Foundation Leadership Enrichment and Regional Networking Programme  merupakan program yang diselenggarakan oleh Temasek Foundation, salah satu perusahaan besar di Singapura, bertujuan menghubungkan mahasiswa Asia dalam sudut pandang global dengan memberikan kesempatan kuliah satu semester di salah satu 3 universitas terbesar di Singapura, yaitu NTU, NUS, dan SMU. Rincian mengenai tujuan, kegiatan apa yang dilakukan, dan elligibility dapat diakses melalui ini. Namun, pendaftaran sebaiknya saya sarankan melalui IRO. Kelengkapan melalui IRO dapat diakses disini.

Oleh karena saya anak teknik dan yang masih dalam rentang waktu pendaftaran tinggal NTU, akhirnya saya apply program tersebut. Jujur, saat apply program ini sebenarnya saya juga dalam hati sudah menyerah duluan karena prosesnya yang berjenjang dan nilai TOEFL saya yang pas-pasan. Dari sekian banyak pendaftar dari ITB, hanya 5 orang yang akan di-endorse oleh ITB ke NTU. Kemudian NTU hanya memilih 50 mahasiswa dari seluruh Asia. Di Indonesia saja ada 3 universitas yang meng-endorse ke NTU, yaitu ITB, UI, dan UGM dimana masing-masing universitas mengirim 5 mahasiswanya. Saya baru tahu prosesnya setelah apply dan hanya bisa tawakkal saja karena saingan saya kebanyakan senior yang pasti lebih hebat daripada saya. Lagipula program ini akan menghabiskan satu semester perkuliahan sehingga saya sudah ikhlas dan senang sudah mencoba hal yang baru.

9 Maret 2015. Saat itu saya sedang presentasi kelompok Karakterisasi Material 2 di Lab Logam. Seusai presentasi, saya mengecek HP saya dan kaget ada 6 missed calls dari nomor lokal Bandung. Segera saya telpon nomor tersebut dan ternyata IRO. Mereka memberitahu bahwa saya masuk salah satu dari 5 mahasiswa yang dipilih dan menanyakan kesiapan saya. Oleh karena jika sudah di-endorse, tidak boleh keluar di tengah proses. IRO butuh jawaban hari itu juga. Saya sendiri bingung karena tidak menyangka. Saya butuh masukan dari beberapa orang. Kebetulan sekali kelompok saya terdiri dari orang-orang yang memang enak diajak ngobrol, yaitu Esa, Giffary, dan Fikri. Saat itu juga saya langsung menanyakan pendapat mereka. Mereka bertiga dengan bulat dan tegas bilang saya harus ambil kesempatan tersebut.

“Memang lo ga bakal dapet pengalaman baru di sini kalau pergi. Tapi di sana juga ada pengalaman. Sama-sama ada pengalaman. Lo sendiri yang pilih mau yang mana,” Fikri yang tiba-tiba membuat satu ruangan hening.

“Kalau takut lulus telat, selo. Lulus bareng kita entar, Zi,” celetuk Esa. Mereka bertiga langsung menakut-nakuti masalah akademik.

Kurang azar. Tapi mereka bertiga kusayang.

Akhirnya saya mengambil kesempatan tersebut. Sekali lagi, saya sudah menyerah. Saingan dari Indonesia saja ada 15 orang. Bagaimana dari seluruh Asia. Begitu saya lihat ketentuan skor TOEFL iBT nya minimal 90, lah saya lebih rendah 1 digit dari nilai tersebut.  Waktu itu saya sudah bersyukur sudah menjadi salah satu dari 5 mahasiswa ITB. Duh, mohon maaf sekali jika isi blog ini kenapa tidak terlalu memotivasi, yha.

Maret. April. Masih belum ada kabar. Saya yang sudah menyerah sih dengan santainya mengiyakan untuk memikul amanah baru di OSKM dan Wisuda Pusat tanpa memikirkan kemungkinan saya akan diterima. Hingga pada akhir April, ketika Pemira baru saja usai, Kang Garry naik menjadi K3M, dan MTM sedang bersiap pada periode baru, saya mulai memikirkan kemungkinan jika saya diterima. Saya mulai berpikir karena Hamdani, Menteri Akademik MTM, bos saya, menanyakan apakah saya akan benar-benar pergi semester depan. Saat itu saya menjadi pimpro Tutorial di Kementerian Akademik MTM ITB. Jika saya benar-benar pergi, Hamdani mengatakan dia siap menggantikan. Saat itu juga saya baru sadar bahwa memang ada kemungkinan saya pergi. Jika saya pergi dan banyak hal yang sudah saya ‘iya’kan, saya akan menjadi manusia yang tidak menepati janji dan tentunya hal tersebut bukan lah hal yang baik. Oleh karena itu, beberapa ajakan seperti membantu Kak Amel di PKPK tidak langsung saya ‘iya’kan dan segera memberitahu rencana saya sebenarnya jika saya pergi ke beberapa orang yang memercayakan amanah kepada saya seperti Fadhil, Imanta, Iis, Pakde, dan Karel.

8 Mei 2015. Saat itu saya sedang berkumpul dengan panitia Wisuda Pusat. Ingat sekali saat itu di hadapan saya Fadhil sedang memberitahu apa yang harus kami sampaikan untuk roadshow  himpunan dan saya sekedar mengecek HP. Tiba-tiba muncul email dari NTU. Saya tidak berani membuka email tersebut. Awalnya saya ingin membuka email tersebut esok harinya, setelah usai Muker MTM. Namun saya penasaran. Kemudian saya langsung buka dan ……..

capture-20150906-125127

Rasanya melayang. Tidak menyangka sekaligus bahagia. Tidak dapat berhenti tersenyum. Segera saya meminta izin keluar dari forum sebentar dan menelpon orang tua saya sembari sesenggukan. Ya, orang tua saya sebenarnya tidak tahu saya apply program ini dan saya memang berencana mengabarkan mereka jika saya benar-benar pergi. Orang tua saya tentunya kaget saat mengetahui hal tersebut. Segera saya meminta restu mereka untuk pergi selama satu semester dan alhamdulillah diizinkan namun dengan syarat saya harus mengusahakan sendiri untuk memiliki timeline kuliah secara normal alias lulus tepat waktu.

Setelah orang tua, saya langsung mengabarkan kabar baik ini kepada Ketua Program Studi, Pak Aditianto Ramelan, yang dari awal sudah mendukung dan membantu saya mengenai segala administrasi pendaftaran. Beliau meminta untuk saya untuk datang ke ruangannya esok hari untuk merencanakan master plan perkuliahan.

Kemudian saya menghubungi Hamdani terlebih dahulu karena malam itu juga akan ada Muker dan memohon maaf jika saya hanya dapat menjadi pimpro hingga akhir Juli. Meski Hamdani bilang hal tersebut tidak menjadi masalah, rasanya ada yang ngilu.

Kemudian kepada kakakku Kak Amel, segera saya mengabarinya dan meminta maaf tidak dapat menemaninya selama kakak menjalani amanah. Hanya bisa mendoakan agar lancar segala urusan dan menggenapkan amanahnya hingga tuntas.

Kemudian kepada Teknik Material 2013 saat Muker MTM. Saat itu Intan, soul sister saya, menangis karena berarti kami tidak akan bersama secara fisik selama satu semester ke depan. Saya juga menangis karena masih tidak menyangka dan akan kehilangan orang spesial satu ini di semester depan.

Esok harinya, saya segera menghadap Pak Adit dan memberitahu course apa saja yang saya diperbolehkan untuk mendaftar di NTU.
capture-20150906-131810

Kepada Pak Adit, saya mengutarakan keinginan saya untuk mengambil 13 AUs, yaitu,

MS2013 Polymers and Composites

MS2018 Electronics & Magnetic Properties of Materials

MS2082 Laboratory IIB

MS4013 Biomaterials

MS4014 Nanomaterials: Fundamentals and Applications

Sebenarnya saya ingin mengambil MS2016 karena bisa ditransfer nilainya di ITB. Namun, Pak Adit memberitahu bahwa Angga, senior saya, bilang material logam di Singapura tidak sedalam di Indonesia. Sehingga lebih baik saya mengambil course yang merupakan keahlian mereka, yaitu advanced material. Setelah final menentukan rencana course yang diambil, Pak Adit memberikan saya beberapa pesan untuk menjaga diri di sana dan tuntut ilmu baik di perkuliahan mau pun kehidupan di sana. Saya begitu bersyukur memiliki Ketua Program Studi yang sangat suportif ini. Rasanya saya akan benar-benar merasa kehilangan beliau selama satu semester ke depan.

Setelah merencanakan master plan perkuliahan, segera masalah visa dan administrasi diurus. Alhamdulillah masalah ini dapat diurus secara online sehingga tidak terlalu merepotkan.

Saat itu, euforia dimulai sejak bulan Mei. Masih 2 bulan lebih menuju bulan Agustus. Masih ada hal yang harus diselesaikan selama 2 bulan tersebut.

Dan, bismillahirrahmanirrahim, petualangan kehidupan pun bermula.