Prologue

Semua bermula dari obrolan saya dengan sahabat saya, Jobas, dalam kelas Material Keramik.

“Kayaknya asik, ya, kalau liburan kali ini ke luar negeri.”

“Tabungan gue ga cukup, Bas! Tapi pengen sih….”

“Mau coba apply research project, ga, nih. Di Kyoto.”

Dengan modal nekat ilmu masih cetek dan kemampuan bahasa pas-pasan, kami berdua mencoba apply untuk research project tersebut. Memang pada akhirnya kami berdua tidak berhasil, namun bermula dari satu itu, kami mulai rajin melihat web IRO untuk berbagai kesempatan pergi ke luar negeri tanpa mengeluarkan biaya. Saat itu juga sebenarnya saya baru tahu di ITB ada IRO…. Kurang paham ini saya yang kurang update  atau memang cuma sedikit orang yang tahu keberadaan IRO. Melalui IRO, saya dan Jobas akhirnya apply untuk dua program yang berbeda. Saya apply untuk TF LEaRN @ NTU sedangkan Jobas apply untuk summer school di Tohoku University.

Apa itu TF LEaRN @ NTU?

TF LEaRN, singkatan dari Temasek Foundation Leadership Enrichment and Regional Networking Programme  merupakan program yang diselenggarakan oleh Temasek Foundation, salah satu perusahaan besar di Singapura, bertujuan menghubungkan mahasiswa Asia dalam sudut pandang global dengan memberikan kesempatan kuliah satu semester di salah satu 3 universitas terbesar di Singapura, yaitu NTU, NUS, dan SMU. Rincian mengenai tujuan, kegiatan apa yang dilakukan, dan elligibility dapat diakses melalui ini. Namun, pendaftaran sebaiknya saya sarankan melalui IRO. Kelengkapan melalui IRO dapat diakses disini.

Oleh karena saya anak teknik dan yang masih dalam rentang waktu pendaftaran tinggal NTU, akhirnya saya apply program tersebut. Jujur, saat apply program ini sebenarnya saya juga dalam hati sudah menyerah duluan karena prosesnya yang berjenjang dan nilai TOEFL saya yang pas-pasan. Dari sekian banyak pendaftar dari ITB, hanya 5 orang yang akan di-endorse oleh ITB ke NTU. Kemudian NTU hanya memilih 50 mahasiswa dari seluruh Asia. Di Indonesia saja ada 3 universitas yang meng-endorse ke NTU, yaitu ITB, UI, dan UGM dimana masing-masing universitas mengirim 5 mahasiswanya. Saya baru tahu prosesnya setelah apply dan hanya bisa tawakkal saja karena saingan saya kebanyakan senior yang pasti lebih hebat daripada saya. Lagipula program ini akan menghabiskan satu semester perkuliahan sehingga saya sudah ikhlas dan senang sudah mencoba hal yang baru.

9 Maret 2015. Saat itu saya sedang presentasi kelompok Karakterisasi Material 2 di Lab Logam. Seusai presentasi, saya mengecek HP saya dan kaget ada 6 missed calls dari nomor lokal Bandung. Segera saya telpon nomor tersebut dan ternyata IRO. Mereka memberitahu bahwa saya masuk salah satu dari 5 mahasiswa yang dipilih dan menanyakan kesiapan saya. Oleh karena jika sudah di-endorse, tidak boleh keluar di tengah proses. IRO butuh jawaban hari itu juga. Saya sendiri bingung karena tidak menyangka. Saya butuh masukan dari beberapa orang. Kebetulan sekali kelompok saya terdiri dari orang-orang yang memang enak diajak ngobrol, yaitu Esa, Giffary, dan Fikri. Saat itu juga saya langsung menanyakan pendapat mereka. Mereka bertiga dengan bulat dan tegas bilang saya harus ambil kesempatan tersebut.

“Memang lo ga bakal dapet pengalaman baru di sini kalau pergi. Tapi di sana juga ada pengalaman. Sama-sama ada pengalaman. Lo sendiri yang pilih mau yang mana,” Fikri yang tiba-tiba membuat satu ruangan hening.

“Kalau takut lulus telat, selo. Lulus bareng kita entar, Zi,” celetuk Esa. Mereka bertiga langsung menakut-nakuti masalah akademik.

Kurang azar. Tapi mereka bertiga kusayang.

Akhirnya saya mengambil kesempatan tersebut. Sekali lagi, saya sudah menyerah. Saingan dari Indonesia saja ada 15 orang. Bagaimana dari seluruh Asia. Begitu saya lihat ketentuan skor TOEFL iBT nya minimal 90, lah saya lebih rendah 1 digit dari nilai tersebut.  Waktu itu saya sudah bersyukur sudah menjadi salah satu dari 5 mahasiswa ITB. Duh, mohon maaf sekali jika isi blog ini kenapa tidak terlalu memotivasi, yha.

Maret. April. Masih belum ada kabar. Saya yang sudah menyerah sih dengan santainya mengiyakan untuk memikul amanah baru di OSKM dan Wisuda Pusat tanpa memikirkan kemungkinan saya akan diterima. Hingga pada akhir April, ketika Pemira baru saja usai, Kang Garry naik menjadi K3M, dan MTM sedang bersiap pada periode baru, saya mulai memikirkan kemungkinan jika saya diterima. Saya mulai berpikir karena Hamdani, Menteri Akademik MTM, bos saya, menanyakan apakah saya akan benar-benar pergi semester depan. Saat itu saya menjadi pimpro Tutorial di Kementerian Akademik MTM ITB. Jika saya benar-benar pergi, Hamdani mengatakan dia siap menggantikan. Saat itu juga saya baru sadar bahwa memang ada kemungkinan saya pergi. Jika saya pergi dan banyak hal yang sudah saya ‘iya’kan, saya akan menjadi manusia yang tidak menepati janji dan tentunya hal tersebut bukan lah hal yang baik. Oleh karena itu, beberapa ajakan seperti membantu Kak Amel di PKPK tidak langsung saya ‘iya’kan dan segera memberitahu rencana saya sebenarnya jika saya pergi ke beberapa orang yang memercayakan amanah kepada saya seperti Fadhil, Imanta, Iis, Pakde, dan Karel.

8 Mei 2015. Saat itu saya sedang berkumpul dengan panitia Wisuda Pusat. Ingat sekali saat itu di hadapan saya Fadhil sedang memberitahu apa yang harus kami sampaikan untuk roadshow  himpunan dan saya sekedar mengecek HP. Tiba-tiba muncul email dari NTU. Saya tidak berani membuka email tersebut. Awalnya saya ingin membuka email tersebut esok harinya, setelah usai Muker MTM. Namun saya penasaran. Kemudian saya langsung buka dan ……..

capture-20150906-125127

Rasanya melayang. Tidak menyangka sekaligus bahagia. Tidak dapat berhenti tersenyum. Segera saya meminta izin keluar dari forum sebentar dan menelpon orang tua saya sembari sesenggukan. Ya, orang tua saya sebenarnya tidak tahu saya apply program ini dan saya memang berencana mengabarkan mereka jika saya benar-benar pergi. Orang tua saya tentunya kaget saat mengetahui hal tersebut. Segera saya meminta restu mereka untuk pergi selama satu semester dan alhamdulillah diizinkan namun dengan syarat saya harus mengusahakan sendiri untuk memiliki timeline kuliah secara normal alias lulus tepat waktu.

Setelah orang tua, saya langsung mengabarkan kabar baik ini kepada Ketua Program Studi, Pak Aditianto Ramelan, yang dari awal sudah mendukung dan membantu saya mengenai segala administrasi pendaftaran. Beliau meminta untuk saya untuk datang ke ruangannya esok hari untuk merencanakan master plan perkuliahan.

Kemudian saya menghubungi Hamdani terlebih dahulu karena malam itu juga akan ada Muker dan memohon maaf jika saya hanya dapat menjadi pimpro hingga akhir Juli. Meski Hamdani bilang hal tersebut tidak menjadi masalah, rasanya ada yang ngilu.

Kemudian kepada kakakku Kak Amel, segera saya mengabarinya dan meminta maaf tidak dapat menemaninya selama kakak menjalani amanah. Hanya bisa mendoakan agar lancar segala urusan dan menggenapkan amanahnya hingga tuntas.

Kemudian kepada Teknik Material 2013 saat Muker MTM. Saat itu Intan, soul sister saya, menangis karena berarti kami tidak akan bersama secara fisik selama satu semester ke depan. Saya juga menangis karena masih tidak menyangka dan akan kehilangan orang spesial satu ini di semester depan.

Esok harinya, saya segera menghadap Pak Adit dan memberitahu course apa saja yang saya diperbolehkan untuk mendaftar di NTU.
capture-20150906-131810

Kepada Pak Adit, saya mengutarakan keinginan saya untuk mengambil 13 AUs, yaitu,

MS2013 Polymers and Composites

MS2018 Electronics & Magnetic Properties of Materials

MS2082 Laboratory IIB

MS4013 Biomaterials

MS4014 Nanomaterials: Fundamentals and Applications

Sebenarnya saya ingin mengambil MS2016 karena bisa ditransfer nilainya di ITB. Namun, Pak Adit memberitahu bahwa Angga, senior saya, bilang material logam di Singapura tidak sedalam di Indonesia. Sehingga lebih baik saya mengambil course yang merupakan keahlian mereka, yaitu advanced material. Setelah final menentukan rencana course yang diambil, Pak Adit memberikan saya beberapa pesan untuk menjaga diri di sana dan tuntut ilmu baik di perkuliahan mau pun kehidupan di sana. Saya begitu bersyukur memiliki Ketua Program Studi yang sangat suportif ini. Rasanya saya akan benar-benar merasa kehilangan beliau selama satu semester ke depan.

Setelah merencanakan master plan perkuliahan, segera masalah visa dan administrasi diurus. Alhamdulillah masalah ini dapat diurus secara online sehingga tidak terlalu merepotkan.

Saat itu, euforia dimulai sejak bulan Mei. Masih 2 bulan lebih menuju bulan Agustus. Masih ada hal yang harus diselesaikan selama 2 bulan tersebut.

Dan, bismillahirrahmanirrahim, petualangan kehidupan pun bermula.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s